Lanjutan Cerita Bisnis Seorang
tukang Pijat 3
Segmen ini perlu digarisbawahi bahwa ternyata tidak mudah mendapat simpatik lembaga finansial.
Pak Karyo .... tidak punya ijin usaha, tidak punya akta pendirian usaha dan lebih lagi tidak punya cash flow yang dibukukan dengan administrasi yang benar menurut lembaga finansial.
Hadewwww .... Dia mulai pesimis, dia mulai apatis dan sedikit dramatis ..... karena memaksa berpikir seperti itu omzet pendapatannya per bulan cenderung menurun.
Istrinya semakin takut .... dalam setiap diskusinya dengan suami tersayangnya, sang istri selalu memohon kepada suaminya untuk menerima apa adanya dan cukup bersyukur dari apa yang sudah bisa dinikmati hari ini.
Pak Karyo masih berpikir bahwa tidak ada yang salah dalam pandangannya. Bukan karena dia seorang tukang pijat lantas semua tidak bisa dikondisikan sesuai persyaratan Lembaga Finansial tersebut.
Ide nakalnya nya muncul, maksut hati untuk mendapat pengakuan pun semakin bergejolak .... dia yakin seyakin yakinnya bahwa .... Lembaga Finansial hanya perlu bukti. Apa yang kemudian dia lakukan ?
Dia menyampaikan ide nya kepada istrinya..... "mbok'e ... kalau nanti aku dapat hasil setiap hari dari memijat ... uangnya jangan langsung diminta ya .... tapi aku ijin tak tabung dulu ... aku butuh catatan penghasilanku, daripada kita nulis di buku yang kita kadang nggak tahu caranya menulis gimana ....lebih baik biar mas dan mbak di Lembaga Finansial itu yang menulisnya .... siapa tahu akhirnya mereka nanti malah butuh dan memberi kita penawaran kredit.
Ada yang salah kah ? .... atau kita yang ternyata selama ini yang salah ?
Segmen ini perlu digarisbawahi bahwa ternyata tidak mudah mendapat simpatik lembaga finansial.
Pak Karyo .... tidak punya ijin usaha, tidak punya akta pendirian usaha dan lebih lagi tidak punya cash flow yang dibukukan dengan administrasi yang benar menurut lembaga finansial.
Hadewwww .... Dia mulai pesimis, dia mulai apatis dan sedikit dramatis ..... karena memaksa berpikir seperti itu omzet pendapatannya per bulan cenderung menurun.
Istrinya semakin takut .... dalam setiap diskusinya dengan suami tersayangnya, sang istri selalu memohon kepada suaminya untuk menerima apa adanya dan cukup bersyukur dari apa yang sudah bisa dinikmati hari ini.
Pak Karyo masih berpikir bahwa tidak ada yang salah dalam pandangannya. Bukan karena dia seorang tukang pijat lantas semua tidak bisa dikondisikan sesuai persyaratan Lembaga Finansial tersebut.
Ide nakalnya nya muncul, maksut hati untuk mendapat pengakuan pun semakin bergejolak .... dia yakin seyakin yakinnya bahwa .... Lembaga Finansial hanya perlu bukti. Apa yang kemudian dia lakukan ?
Dia menyampaikan ide nya kepada istrinya..... "mbok'e ... kalau nanti aku dapat hasil setiap hari dari memijat ... uangnya jangan langsung diminta ya .... tapi aku ijin tak tabung dulu ... aku butuh catatan penghasilanku, daripada kita nulis di buku yang kita kadang nggak tahu caranya menulis gimana ....lebih baik biar mas dan mbak di Lembaga Finansial itu yang menulisnya .... siapa tahu akhirnya mereka nanti malah butuh dan memberi kita penawaran kredit.
Ada yang salah kah ? .... atau kita yang ternyata selama ini yang salah ?